Karin Bani - (Obat yang tidak bisa dimakan)
Sebulan
berlalu Karin mengalami kecelakaan setelah
tertabrak mobil minibus saat hendak menyebrang jalan, hari itu Karin
sedang berada di sebuah tempat makan menghadiri acara reuni sekolah
tunangannya. Mereka berkumpul dan melepas rindu setelah sekian lama tidak
saling ejek. sebenarnya Karin sangat tidak bersemangat menghadiri acara itu dan
menjalani hubungannya pun dengan penuh rasa keterpaksaan, maklum saja ia
dijodohkan dengan lelaki yang bukan pilihannya.
Ketika
sedang asyik berbincang, Karin merasa tersinggung dengan ucapan teman
tunangannya yang menganggap “harta bisa membeli perasaan”, seketika Karin
beridiri dari kursi dan langsung keluar ruangan diikuti oleh Febri (tunangannya)
yang hendak mengejar Karin. Setelah melewati pintu lobby, Febri menarik tangan
Karin namun ditepis dan Karin berjalan dengan cepat sambil menahakan rasa kesal
campur sedih menuju ke arah mobilnya yang berada di sebrang jalan. Naas Karin
melupakan pelajaran dasar waktu kecil, ……….. “ketika kita hendak menyebrang
jalan harus hati-hati dan tengok kanan
kiri dulu” ……. sehingga Karin tidak
sampai ke sebrang jalan untuk menaiki mobilnya tetapi malah tiba di IGD dengan menaiki
Ambulance. Setelah semua penanganan tuntas, tinggal satu yang tersisa yaitu belum
kembalinya semangat “hidup” dan selalu terlihat gelisah. Dokter dan perawat
hampir setiap hari memberikan motivasi agar harus semangat namun hingga minggu
keempat ditemani jarum infusan, kondisi Karin masih belum bisa dikatakan “sembuh
total”
Sampai
pada akhirnya semua anggota keluarga berkumpul mengelingi Karin termasuk Febri
(tunangannya), lalu papa Karin berwajah sangar dan berkumis tebal berusaha
berkata dengan nada lembut …….
Papa Karin : “Karin, kalau papa lihat … kamu
sedang memikirkan sesuatu dan sepertinya sangat membebani kamu Nak. Coba kasih
tau kita, kamu pengen apa, papa bantu”…..
Mendengar apa yang dikatakan papanya, Karin
yang lagi duduk diatas kasur sambil
membuka buku diary sontak menengok kearah papanya dan berkata ..
Karin :
“Papa mau ngabulin apa yang Karin mau?” (dengan ekspresi muka lemas),
Papa
Karin : “iya, kamu pengen apa? ”
Karin
: “ Aku pengen ketemu Bani, Pah… (dengan ekspresi muka berkaca-kaca).
Seketika
suasana hening dan hanya terdengar suara sepatu suster yang sedang berjalan di
koridor luar ruangan. Semua yang sedang berdiri saling menatap satu sama lain,
suasana yang bisa dikatakan tegang. Sebab Bani adalah pacar Karin selama 3
tahun 10 bulan sampai akhirnya peristiwa “pemutusan” paksa hubungan kedua
sejoli ini dilakukan oleh papa Karin. Mendengar ucapan Karin papanya langsung
menundukan kepala dengan tangan memegang ranjang, mamanya berdiri disamping
sambil mengelus pundak papanya. Sementara kedua kakak Karin dan istri –
istrinya tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, hanya berekspresi harap –
harap cemas.
Dengan
lantang Febri (tunangan karin) menyudahi suasana hening..
Febri :
(menghela nafas)……. “ Sudah Pak, kita
hubungi Bani sekarang”….. (menepuk
pundah papa Karin sambil mengeluarkan seyuman ikhlas (mungkin))
Papa
Karin menengok kearah Febri, sambil belum tau apa yang akan diucapkan……. Febri
kembali berkata..
Febri
: “Pak, sekarang kita sudah tau apa yang Karin butuhkan. Saat ini Bapak tidak
usah mempertimbangkan saya, kita usahakan kesembuhan Karin Pak”
Papa Karin :
(sambil wajah tersenyum ke Febri lalu menengok ke arah Karin) “Ia Nak, Papa
akan menghubungi Bani agar segera datang kesini”
Karin
yang tadinya nampak lesu dan tidak ada semangat seketika tersenyum dan dipenuhi
rasa penuh harap,
Papa
Karin : “sekarang kamu istirahat ya,,
(sambil mengelus dahi Karin).
Setelah
itu semuanya berpindah ke ruang tamu kecuali Karin. Kakak Ipar Karin sibuk
mencari nomor hp Bani karena ingat beberapa bulan lalu Karin sempat mengubungi
Bani lewat Hpnya, Sementara Papa dan Mama Karin berdialog dengan Febri mengenai
kejadian ini dan menentukan langkah kedepannya.
Setelah
dihubungi dan dibujuk cukup lama karena Bani sedang sibuk mengerjakan Tugas
Akhir dan 8 hari lagi sidang 3 dilaksanakan, Bani akhirnya mau meluangkan waktu
untuk menjenguk Karin.
Bani
yang penuh rasa panik karena sebagian tugas – tugasnya belum dikerjakan dan
dihantui rasa penasaran karena diminta bertemu Karin, berangkat menaiki
angkutan umum Bis dengan rute Bandung – Cirebon. Setelah menempuh perjalanan
jauh, Bani yang mengenakan pakaian favoritnya (kemeja shanghai hitam &
celana chinoo cream) bergegas memasuki ruangan rawat inap dan menuju ke
resepsionis menanyakan keberadaan kamar Karin dirawat. Tiba lah Bani di depan
pintu ruangan.
Bani
dua kali mengetok pintu sambil bilang permisi….
Kurang
dari 3 detik langsung tedengar sautan dari dalam ruangan dan pintu pun terbuka.
Bani sedikit terkejut karena yang membuka pintu tunangannya Karin, ….ya Febri.
Lantas ia berkata…
Febri :
“weeiih Bani,,,, apa kabar bro?” (sambil menyodorkan tangan dan tersenyum).
Bani
memang seperti orang yang kalem tapi sebenarnya ia sangat cepat merespon dan
tipikal orang yang selalu bilang “santai, lakukan aja dulu”. Mendengar sapaan
Febri, Bani tersenyum balik….
Bani
: “baik dong, selalu baik..
hahaha” (sedikit tertawa).
Febri
: haha,, ayo bro kita masuk,
santai aja jangan berfikir yang aneh aneh..
Bani
: Asshiiaap..
Ruang
rawat yang ditempati ini cukup luas, horden memisahkan antara ruang tamu dan
ruang pasien. Tiba di dalam ruangan, Bani disambut oleh keluarga Karin dan
lantas menyalami semua yang ada di ruang tamu.
Kakak Ipar Karin : “Akhirnya datang juga” (sedikit tertawa mencairkan suasana
dan senyum)
Papa
Karin : “Apa kabar Ban?”
(menyapa dengan hangat)
Mama
Karin
: (tersenyum)..
Bani
: “Sehat Pak”
Kemudian
mereka mempersilahkan Bani untuk duduk dan memberitahu alasan ia diminta datang
menemui Karin…
12
menit setelah perbincangan berlangsung, Suster yang akan memberi obat dan
mengganti perban Karin masuk ke ruangan. Saat suster sedang mengganti perban,
Karin yang sedang tertidur lelap terbangun dan meminta air minum. Karin belum
mengetahui kalau orang yang ia tunggu sudah ada diruang sebelah, setelah
pergantian perban selesai suster pamit keluar. Kemudian keluarga dan Bani mengampiri Karin
termasuk Febri (tunangan Karin berjalan paling terakhir).
Kakak
Ipar Karin : “niihhh yang ditunggu – tunggu udah datang”…. (sedikit tertawa)
Karin
yang sudah 5 minggu berada di ruang rawat inap, selalu gelisah, resah, dan tidak
nafsu makan seketika tersenyum merekah, menutup buku diary dengan kedua
tangannya sambil menatap kearah Bani dan berkata….. “Bani”….. Seperti orang pemalas
tidak pernah belajar ketika waktu ujian tiba, salah satu mata pelajaran teori
yang sangat tidak ia sukai dan kebetulan pengajaranya super bawel, ketus dan
belum pernah sekalipun senyum apalagi tertawa saat pelajarannya berlangsung, ia
hanya bisa pasrah dengan hasil ujian yang akan ia dapatkan. Tetapi keajaiban
itu memang selalu terjadi, ketika sedang melihat hasil ujian di papan mading ia
mendapatkan nilai A di mata pelajaran teori tersebut, ia sama sekali tidak
menyangka dan sangat bahagia dengan nilai yang ia dapatkan. Mungkin seperti itu
rasa bahagia yang sedang Karin rasakan saat melihat Bani setelah 1,6 tahun
tidak bertemu.
Melihat
Karin bengong saat ia datang, Bani tersenyum ….
Bani
: ”santai aja kali, melototin
gitu, hihihi”..
Karin :
(seketika Karin berkedip cepat sambil sedikit gugup berkata).. “sama siapa Ban
kesini?”
Bani :
“sendiri lah kan udah gede, masa dianter – anter hehe” (berbicara santai)
Karin
senyum dan sedikit tertawa…. Sebenarnya pada saat itu suasana ruangan tidak
setenang yang dibayangkan bagi orang tua dan saudara – saudara Karin, sebab
febri (tunangan karin) ada disitu, sehingga masih ada rasa canggung kecuali
bagi Karin dan Bani.
Papa Karin : “duduk disini Ban” (sambil menyodorkan kursi mahasiswa tapi
tidak ada mejanya)
Bani
pun duduk dan menaruh tasnya disamping kursi sambil menghela nafas… Dengan
penuh semangat Karin memulai pembicaraan..
Karin
: “Gimana udah sidang belum?”
Bani
: “udah lah, bentar lagi
sidang 3” (menjawab dengan santai)
Karin : ‘’weiihh bentar lagi st dong…(memuji
dengan semangat)
Bani
: “hahaha,, iyalah. Emang kamu
aja yang bisa st ..
Karin
tertawa lepas mendengar jawaban Bani termasuk orang – orang yang ada di
sekitarnya,,,, yapps termasuk juga Febri…
Setelah
hubungan mereka berdua berakhir dan Karin dipertemukan dengan Febri, Karin
tidak diizinkan untuk memegang HP pribadi oleh papanya, iya betul hanya oleh
papanya. Sementara mama dan keluarga lainnya menyayangkan ketentuan papanya
tersebut. Sehingga Karin tidak pernah lagi berkunjung ke akun – akun media
sosialnya dan hanya keluar rumah untuk bekerja saja, sehingga Karin meluapkan
keresahannya lewat buku diary.
Karin :
“eh, aku ada sesuatu loh buat kamu” (berkata kepada Bani). ….Kak Risa (nama
kakak ipar yang pertama) tolong ambilin lagi buku merah itu (sambil menunjuk
kearah meja kecil)…
Kakak
iparnya mengambilkan buku….
Karin
membuka halaman yang dituju dan memperlihatkan ke Bani….
Karin
: “nih lihat”…..(sambil
tersenyum dan sedikit tertawa)
Bani
merasa senang dengan salah satu halaman dari buku itu. Tapi itulah Bani,
orangnya suka bercanda….
Bani
: “telat ah,,,, ulang tahunku kan udah kelewat 2 bulan lalu” (pura – pura tidak terima, karena ulang
tahunnya sudah lama kelewat)….
Karin
: “heheehe iya maaf baru bisa ngucapin sekarang” …. “Eh ini mereka lagi nonton
apasih, padalah tv ga di nyalain” (berkata ke Bani, nyindir keluarganya yang
ngeliatin mereka ngobrol)..
Semua
yang ada di ruangan tertawa dan senyum mendengar kata – kata Karin tadi…..
Kaka pertama Karin : “yeeeee ini gimana sih, malah pada nontonin, ayoo keluar -
keluar” (sambil sedikit tertawa)
Berpindahlah
semua ke ruang tamu kecuali Bani dan Karin, orang tua Karin dan Febri
berbincang perihal kejadian saat ini dan mulai membicarakan hubungannya dengan
Karin kedepannya seperti apa, sementara semua Kakak Karin pergi keluar ruangan
membeli makan.
Karin
sangat menikmati waktunya berbincang bersama Bani dan ingin tetap seperti ini.
Perbincangan yang sangat syahdu, penuh dengan tawa dan canda, mengingatkan
kepada Karin kisah masa lalunya. Seperti biasa selain ada suster masuk untuk
memberikan obat dan mengganti perban, (selang beberapa hari atau beberapa jam
sekali,, ….tidak tau jadwal dokter masuk ke ruang pasien hehe) dokter jaga
masuk untuk mengecek kondisi kesehatan Karin. Tidak jauh beda dengan Bani,
dokter yang satu ini suka bercanda …..…
Dokter :
“ooooh sekarang saya baru tau, ternyata ada obat yang ga bisa di makan”…(sambil
menyuntikan cairan ke selang infusan)…
Karin
dan Bani belum paham maksud perkataan Dokter…
Karin :
“ laah emang banyak Dok,,,, balsem, salonpas, minyak angin gabisa dimakan” (sambil bercanda).
Bani
: “hahaha”
Dokter : “eeeh bukan itu, ada satu lagi…!”
Karin
: “apa Dok?” (sedikit
penasaran)
Dokter :
“ya itu, mas yang lagi duduk obat yang ga bisa dimakan” (sambil tersenyum)
Karin
dan Bani tertawa lepas….
Bani
: “Bisa aja nih Pak dokter”
Dokter :
“eh emang betul loh, selama berada di ruangan, baru hari ini Mba Karin terlihat
ceria dan penuh semangat gini”..
Bani
: “Lah emang hari – hari sebelumnya gimana dok, dia?” (sambil menunjuk kearah
Karin menggunakan gerakan kepala)
Dokter :
“kaya ayam lagi sakit,,, diem ga berkokok hehehe” (ucap dokter sambil ketawa
lepas)
Bani : “awokawokawokawoka”
Karin : “ah Dokter bisa aja” (senyum
sinis)
Setelah
tugasnya tuntas, Dokter pamit meninggalkan ruangan sementara Karin dan Bani
melanjutkan perbincangan berdua hingga pukul 4 sore. Hampir saja Bani lupa
kalau ia sudah membeli tiket untuk pulang lagi ke Bandung dengan keberangkatan bus
jam 6 sore di hari yang sama, alhasil ia harus segera berangkat menuju terminal
bus yang jaraknya 30 menit dari rumah sakit tempat Karin dirawat. Sebenarnya
mereka berdua sangat menikmati perbincangan itu apalagi Karin yang sangat
menantikan kedatanagan Bani karena sudah lama tidak bertemu. Bani langsung
bilang ke Karin kalau ia akan segera pulang,,
Bani :
“eh udah jam 4 sore nih,,,,,, jam 6 nanti harus udah nyampe di terminal” (sambil menggeser dan membuka tasnya mengambil makanan untuk Karin)..
Karin
: “haah” (ekspresi kaget).. “pulang? Baru sebentar kamu disini, masa mau
pulang”…
Sambil
“grasak – gresek suara keresek” Bani menjawab..
Bani :
“hmm ya mau gimana lagi, tiketnya udah dibeli hihi,,,” .. nih buah buat kamu,
orang sakit mesti makan buah – buahan,,, katanya sih itu juga” (sambil menaruh
keresek buah di samping badan Karin) ..
Karin
: “yaahh,, sebentar amat sih kamu, batalin aja tiketnya. Besok baru pulang,
nginep disini”
Bani :
“waduhhh wkwkwk” (tertawa lepas 2 detik)… “gak bisa lah sayang udah dibayar,
lagian lusa harus bimbingan persiapan sidang 5 hari lagi”..
Karin
: “yaahhh”.. (wajah cerianya
mulai hilang kembali)
Bani :
“ hehe,, tunggu yah mau pamitan dulu” … (berdiri dari kursi menuju ruang tamu
untuk pamitan ke keluarga Karin )
Sama
seperti Karin, Bani pun sebenarnya tidak ingin segera pulang terlebih jarak
Bandung Cirebon cukup memakan waktu dan tentunya stamina. Orang tua Karin dan
Kakaknya pun menahan Bani agar tidak cepat pulang lagi karena khawatir kondisi
Karin kembali murung dan gelisah, akan tetapi sama seperti yang dikatakan
kepada Karin, Bani juga mengatakannya ke keluarga Karin alasan ia harus segara
pulang dan ia menyampaikan kalau permintaan maaf ke semuanya serta ke Febri
(tunangannya Karin) karena ia merasa bersalah, bagaimana pun juga Bani pernah
menjadi pacarnya Karin. Sehingga ia takut kalau Febri merasa tersinggung dengan
kedatangannya. Namun sangat diluar dugaan, Febri merasa tenang dan lega setelah
kedatangan Bani, dan Febri mulai menerima kalau ternyata Karin masih mempunyai
harapan besar kepada Bani. Setelah itu semuanya kembali lagi ke ruangan Karin kecuali
Febri, karena ia pamit pulang untuk bekerja.
Karin
: “Ban,,, kalau lagi ada waktu luang, jangan lupa main ke rumah yah” (ucap
Karin dengan posisi berbaring, nada bicara pelan dan penuh harap, tidak
terlihat lagi wajah seri dan penuh canda)
Bani
: “hahaha,, siapp, jangan
lemas gitu dong… harus semangat”
Mendengar
kalimat terakhir yang diucapkan Karin, sangat menyentuh hati keluarga terutama
papanya, karena dulu sengaja memisahkan dan meminta hubungan Karin dengan Bani putus.
Sekarang papa Karin sadar kalau anaknya itu sangat membutuhkan keberadaan Bani,
dan beruntungnya Febri termasuk orang yang mudah menerima keadaan dan penyabar
meskipun ia sorang prajurit dengan tampang tidak jauh sangar dari papanya
Karin.
Bani
pamit dan mengucapkan salam………
Saat
itu posisi Karin yang sedang berbaring tiba – tiba bangun (ke posisi duduk /
bangun setengah badan) sambil melambaikan tangan kananya ke Bani ….
Karin
: “Ban…….. awwww“
Ketika
mengangkat tangan, Karin tidak sadar kalau jarun infusan menancap di lengan
kanan. Akhirnya selang infusan terlepas, sementara jarum masih menancap di
lengan.
Darah
pun keluar dari ujung jarum, membuat semua panik, termasuk Bani yang menahan
langkah kakinya untuk keluar ruangan.
Mama Karin : “haduuhh karinn…. Bang….abang, cepetan telpon suster” (meyuruh
kakak Karin dengan keadaan panik)
Karin : “duuh perih…” (ekspresi muka
merasakan rasa perih)
Salah
satu kakak ipar Karin seorang perawat dengan sigap menarik lagi selang infusan
dan menyambungkannya ke jarum yang menancap di lengan Karin..
Bani
: “waduuuh, ada apa rin, ?”
(sedikit panik)..
Karin
: “aku mau ngasih buku” (sambil menahan perih)… kak tolong ambilin buku itu,
(sambil menunjuk kearah buku, meminta kakaknya mengambil)
2
minggu kemudian setelah Karin sudah di ijinkan untuk pulang, Febri dan orang
tuanya berkunjung ke rumah Karin untuk membicarakan apa yang telah terjadi.
Semua keputusan ada ditangan Febri, Karin hanya bisa menuruti apa yang
dikatakan papanya. Febri sangat tidak berharap jalan hidupnya seperti ini,
namun air cucian beras tidak dapat bening kembali, semua sudah terjadi dan
Febri harus segera memutuskan. Dengan berat hati Febri membatalkan rencanannya
untuk menikahi Karin dan mengakhiri hubungannya, meskipun begitu Febri merasa
lega dan semua sudah jelas.
Di sisi lain Karin merasa bersalah bercampur lega,
sebab ia tidak bisa melanjutkan niat baik Febri untuk meminangnya. Sementara
orang tua Karin dan Febri tidak memberikan keputusan yang mengekang antara
keduanya, mereka hanya memberikan semangat dan dukungan positif bagi anak –
anaknya.
Lembaran
cerita baru mulai menghiasi kehidupan Karin, ia sudah diperbolehkan untuk memegang
Hp dan bebas berlalu lalang keluar rumah meskipun masih berada di kursi roda.
Hari harinya selalu ceria dan dipenuhi rasa optimisme. Karin memang orang yang
riang dan mudah membuat suasana ceria, sama seperti Bani yang mudah beradaptasi
dengan siapapun.
Terimakasih

Komentar
Posting Komentar