Karin Bani - (Obat yang tidak bisa dimakan)


Sudah 3 minggu Karin terbaring di ruang rawat inap setelah menjalani operasi patah tulang pergelangan tangan kanan dan tulang kering sebelah kiri, dokter yang menanganinya selalu berpesan agar jangan banyak pikiran, menjaga kondisi pikiran tetap semangat dan selalu memikirkan hal positif. Namun tanpa harus ditanya, dari raut muka terlihat sedang memikirkan sesuatu yang sangat membebaninya. 

Sebulan berlalu Karin mengalami kecelakaan setelah  tertabrak mobil minibus saat hendak menyebrang jalan, hari itu Karin sedang berada di sebuah tempat makan menghadiri acara reuni sekolah tunangannya. Mereka berkumpul dan melepas rindu setelah sekian lama tidak saling ejek. sebenarnya Karin sangat tidak bersemangat menghadiri acara itu dan menjalani hubungannya pun dengan penuh rasa keterpaksaan, maklum saja ia dijodohkan dengan lelaki yang bukan pilihannya.

Ketika sedang asyik berbincang, Karin merasa tersinggung dengan ucapan teman tunangannya yang menganggap “harta bisa membeli perasaan”, seketika Karin beridiri dari kursi dan langsung keluar ruangan diikuti oleh Febri (tunangannya) yang hendak mengejar Karin. Setelah melewati pintu lobby, Febri menarik tangan Karin namun ditepis dan Karin berjalan dengan cepat sambil menahakan rasa kesal campur sedih menuju ke arah mobilnya yang berada di sebrang jalan. Naas Karin melupakan pelajaran dasar waktu kecil, ……….. “ketika kita hendak menyebrang jalan harus hati-hati dan  tengok kanan kiri dulu” …….  sehingga Karin tidak sampai ke sebrang jalan untuk menaiki mobilnya tetapi malah tiba di IGD dengan menaiki Ambulance. Setelah semua penanganan tuntas, tinggal satu yang tersisa yaitu belum kembalinya semangat “hidup” dan selalu terlihat gelisah. Dokter dan perawat hampir setiap hari memberikan motivasi agar harus semangat namun hingga minggu keempat ditemani jarum infusan, kondisi Karin masih belum bisa dikatakan “sembuh total” 

Sampai pada akhirnya semua anggota keluarga berkumpul mengelingi Karin termasuk Febri (tunangannya), lalu papa Karin berwajah sangar dan berkumis tebal berusaha berkata dengan nada lembut ……. 

Papa Karin : “Karin, kalau papa lihat … kamu sedang memikirkan sesuatu dan sepertinya sangat membebani kamu Nak. Coba kasih tau kita, kamu pengen apa,  papa bantu”…..

 Mendengar apa yang dikatakan papanya, Karin yang lagi duduk diatas kasur  sambil membuka buku diary sontak menengok kearah papanya dan berkata ..

Karin              : “Papa mau ngabulin apa yang Karin mau?” (dengan ekspresi muka lemas),
Papa Karin    : “iya, kamu pengen apa? ”
Karin              : “ Aku pengen ketemu Bani, Pah… (dengan ekspresi muka berkaca-kaca).

Seketika suasana hening dan hanya terdengar suara sepatu suster yang sedang berjalan di koridor luar ruangan. Semua yang sedang berdiri saling menatap satu sama lain, suasana yang bisa dikatakan tegang. Sebab Bani adalah pacar Karin selama 3 tahun 10 bulan sampai akhirnya peristiwa “pemutusan” paksa hubungan kedua sejoli ini dilakukan oleh papa Karin. Mendengar ucapan Karin papanya langsung menundukan kepala dengan tangan memegang ranjang, mamanya berdiri disamping sambil mengelus pundak papanya. Sementara kedua kakak Karin dan istri – istrinya tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, hanya berekspresi harap – harap cemas. 

Dengan lantang Febri (tunangan karin) menyudahi suasana hening..

Febri              : (menghela nafas)…….  “ Sudah Pak, kita hubungi Bani sekarang”…..  (menepuk pundah papa Karin sambil mengeluarkan seyuman ikhlas (mungkin))

Papa Karin menengok kearah Febri, sambil belum tau apa yang akan diucapkan……. Febri kembali berkata..

Febri              : “Pak, sekarang kita sudah tau apa yang Karin butuhkan. Saat ini Bapak tidak usah mempertimbangkan saya, kita usahakan kesembuhan Karin Pak”
Papa Karin     : (sambil wajah tersenyum ke Febri lalu menengok ke arah Karin) “Ia Nak, Papa akan menghubungi Bani agar segera datang kesini”

Karin yang tadinya nampak lesu dan tidak ada semangat seketika tersenyum dan dipenuhi rasa penuh harap, 

Papa Karin    : “sekarang kamu istirahat ya,, (sambil mengelus dahi Karin).

Setelah itu semuanya berpindah ke ruang tamu kecuali Karin. Kakak Ipar Karin sibuk mencari nomor hp Bani karena ingat beberapa bulan lalu Karin sempat mengubungi Bani lewat Hpnya, Sementara Papa dan Mama Karin berdialog dengan Febri mengenai kejadian ini dan menentukan langkah kedepannya.

Setelah dihubungi dan dibujuk cukup lama karena Bani sedang sibuk mengerjakan Tugas Akhir dan 8 hari lagi sidang 3 dilaksanakan, Bani akhirnya mau meluangkan waktu untuk menjenguk Karin. 

Bani yang penuh rasa panik karena sebagian tugas – tugasnya belum dikerjakan dan dihantui rasa penasaran karena diminta bertemu Karin, berangkat menaiki angkutan umum Bis dengan rute Bandung – Cirebon. Setelah menempuh perjalanan jauh, Bani yang mengenakan pakaian favoritnya (kemeja shanghai hitam & celana chinoo cream) bergegas memasuki ruangan rawat inap dan menuju ke resepsionis menanyakan keberadaan kamar Karin dirawat. Tiba lah Bani di depan pintu ruangan. 

Bani dua kali mengetok pintu sambil bilang permisi….  

Kurang dari 3 detik langsung tedengar sautan dari dalam ruangan dan pintu pun terbuka. Bani sedikit terkejut karena yang membuka pintu tunangannya Karin, ….ya Febri. Lantas ia berkata… 

Febri              : “weeiih Bani,,,, apa kabar bro?” (sambil menyodorkan tangan dan                tersenyum). 

Bani memang seperti orang yang kalem tapi sebenarnya ia sangat cepat merespon dan tipikal orang yang selalu bilang “santai, lakukan aja dulu”. Mendengar sapaan Febri, Bani tersenyum balik….

Bani             : “baik dong, selalu baik.. hahaha” (sedikit tertawa).
Febri             : haha,, ayo bro kita masuk, santai aja jangan berfikir yang aneh aneh..
Bani             : Asshiiaap..

Ruang rawat yang ditempati ini cukup luas, horden memisahkan antara ruang tamu dan ruang pasien. Tiba di dalam ruangan, Bani disambut oleh keluarga Karin dan lantas menyalami semua yang ada di ruang tamu. 

Kakak Ipar Karin       : “Akhirnya datang juga” (sedikit tertawa mencairkan suasana dan senyum)
Papa Karin              : “Apa kabar Ban?” (menyapa dengan hangat)
Mama Karin            : (tersenyum)..
Bani                       : “Sehat Pak”

Kemudian mereka mempersilahkan Bani untuk duduk dan memberitahu alasan ia diminta datang menemui Karin… 

12 menit setelah perbincangan berlangsung, Suster yang akan memberi obat dan mengganti perban Karin masuk ke ruangan. Saat suster sedang mengganti perban, Karin yang sedang tertidur lelap terbangun dan meminta air minum. Karin belum mengetahui kalau orang yang ia tunggu sudah ada diruang sebelah, setelah pergantian perban selesai suster pamit keluar.  Kemudian keluarga dan Bani mengampiri Karin termasuk Febri (tunangan Karin berjalan paling terakhir). 

Kakak Ipar Karin : “niihhh yang ditunggu – tunggu udah datang”…. (sedikit tertawa)

Karin yang sudah 5 minggu berada di ruang rawat inap, selalu gelisah, resah, dan tidak nafsu makan seketika tersenyum merekah, menutup buku diary dengan kedua tangannya sambil menatap kearah Bani dan berkata….. “Bani”….. Seperti orang pemalas tidak pernah belajar ketika waktu ujian tiba, salah satu mata pelajaran teori yang sangat tidak ia sukai dan kebetulan pengajaranya super bawel, ketus dan belum pernah sekalipun senyum apalagi tertawa saat pelajarannya berlangsung, ia hanya bisa pasrah dengan hasil ujian yang akan ia dapatkan. Tetapi keajaiban itu memang selalu terjadi, ketika sedang melihat hasil ujian di papan mading ia mendapatkan nilai A di mata pelajaran teori tersebut, ia sama sekali tidak menyangka dan sangat bahagia dengan nilai yang ia dapatkan. Mungkin seperti itu rasa bahagia yang sedang Karin rasakan saat melihat Bani setelah 1,6 tahun tidak bertemu. 

Melihat Karin bengong saat ia datang, Bani tersenyum ….

Bani             : ”santai aja kali, melototin gitu, hihihi”..
Karin              : (seketika Karin berkedip cepat sambil sedikit gugup berkata).. “sama siapa Ban kesini?”
Bani               : “sendiri lah kan udah gede, masa dianter – anter hehe” (berbicara santai)

Karin senyum dan sedikit tertawa…. Sebenarnya pada saat itu suasana ruangan tidak setenang yang dibayangkan bagi orang tua dan saudara – saudara Karin, sebab febri (tunangan karin) ada disitu, sehingga masih ada rasa canggung kecuali bagi Karin dan Bani.

Papa Karin     : “duduk disini Ban” (sambil menyodorkan kursi mahasiswa tapi tidak ada mejanya)

Bani pun duduk dan menaruh tasnya disamping kursi sambil menghela nafas… Dengan penuh semangat Karin memulai pembicaraan..

Karin            : “Gimana udah sidang belum?”
Bani             : “udah lah, bentar lagi sidang 3” (menjawab dengan santai)
Karin            : ‘’weiihh bentar lagi st dong…(memuji dengan semangat)
Bani             : “hahaha,, iyalah. Emang kamu aja yang bisa st ..

Karin tertawa lepas mendengar jawaban Bani termasuk orang – orang yang ada di sekitarnya,,,, yapps termasuk juga Febri…

Setelah hubungan mereka berdua berakhir dan Karin dipertemukan dengan Febri, Karin tidak diizinkan untuk memegang HP pribadi oleh papanya, iya betul hanya oleh papanya. Sementara mama dan keluarga lainnya menyayangkan ketentuan papanya tersebut. Sehingga Karin tidak pernah lagi berkunjung ke akun – akun media sosialnya dan hanya keluar rumah untuk bekerja saja, sehingga Karin meluapkan keresahannya lewat buku diary. 

Karin              : “eh, aku ada sesuatu loh buat kamu” (berkata kepada Bani). ….Kak Risa (nama kakak ipar yang pertama) tolong ambilin lagi buku merah itu (sambil menunjuk kearah meja kecil)…

Kakak iparnya mengambilkan buku….

Karin membuka halaman yang dituju dan memperlihatkan ke Bani….

Karin            : “nih lihat”…..(sambil tersenyum dan sedikit tertawa)

Bani merasa senang dengan salah satu halaman dari buku itu. Tapi itulah Bani, orangnya suka bercanda….

Bani              : “telat ah,,,, ulang tahunku kan udah kelewat 2 bulan lalu”  (pura – pura tidak terima, karena ulang tahunnya sudah lama kelewat)….
Karin            : “heheehe iya maaf baru bisa ngucapin sekarang” …. “Eh ini mereka lagi nonton apasih, padalah tv ga di nyalain” (berkata ke Bani, nyindir keluarganya yang ngeliatin mereka ngobrol)..

Semua yang ada di ruangan tertawa dan senyum mendengar kata – kata Karin tadi…..
Kaka pertama Karin      : “yeeeee ini gimana sih, malah pada nontonin, ayoo keluar - keluar” (sambil sedikit tertawa)

Berpindahlah semua ke ruang tamu kecuali Bani dan Karin, orang tua Karin dan Febri berbincang perihal kejadian saat ini dan mulai membicarakan hubungannya dengan Karin kedepannya seperti apa, sementara semua Kakak Karin pergi keluar ruangan membeli makan. 

Karin sangat menikmati waktunya berbincang bersama Bani dan ingin tetap seperti ini. Perbincangan yang sangat syahdu, penuh dengan tawa dan canda, mengingatkan kepada Karin kisah masa lalunya. Seperti biasa selain ada suster masuk untuk memberikan obat dan mengganti perban, (selang beberapa hari atau beberapa jam sekali,, ….tidak tau jadwal dokter masuk ke ruang pasien hehe) dokter jaga masuk untuk mengecek kondisi kesehatan Karin. Tidak jauh beda dengan Bani, dokter yang satu ini suka bercanda …..…

Dokter            : “ooooh sekarang saya baru tau, ternyata ada obat yang ga bisa di makan”…(sambil menyuntikan cairan ke selang infusan)…

Karin dan Bani belum paham maksud perkataan Dokter…

Karin              : “ laah emang banyak Dok,,,, balsem, salonpas, minyak angin  gabisa dimakan” (sambil bercanda).
Bani             : “hahaha”
Dokter          : “eeeh bukan itu, ada satu lagi…!”
Karin            : “apa Dok?” (sedikit penasaran)
Dokter          : “ya itu, mas yang lagi duduk obat yang ga bisa dimakan” (sambil tersenyum)
Karin dan Bani tertawa lepas….
Bani             : “Bisa aja nih Pak dokter”
Dokter            : “eh emang betul loh, selama berada di ruangan, baru hari ini Mba Karin terlihat ceria dan penuh semangat gini”..
Bani               : “Lah emang hari – hari sebelumnya gimana dok, dia?” (sambil menunjuk kearah Karin menggunakan gerakan kepala)
Dokter            : “kaya ayam lagi sakit,,, diem ga berkokok hehehe” (ucap dokter sambil ketawa lepas)
Bani              : “awokawokawokawoka”
Karin            : “ah Dokter bisa aja” (senyum sinis)

Setelah tugasnya tuntas, Dokter pamit meninggalkan ruangan sementara Karin dan Bani melanjutkan perbincangan berdua hingga pukul 4 sore. Hampir saja Bani lupa kalau ia sudah membeli tiket untuk pulang lagi ke Bandung dengan keberangkatan bus jam 6 sore di hari yang sama, alhasil ia harus segera berangkat menuju terminal bus yang jaraknya 30 menit dari rumah sakit tempat Karin dirawat. Sebenarnya mereka berdua sangat menikmati perbincangan itu apalagi Karin yang sangat menantikan kedatanagan Bani karena sudah lama tidak bertemu. Bani langsung bilang ke Karin kalau ia akan segera pulang,, 

Bani             : “eh udah jam 4 sore nih,,,,,, jam 6 nanti harus udah nyampe di terminal”  (sambil menggeser dan membuka tasnya  mengambil makanan untuk Karin)..
Karin            : “haah” (ekspresi kaget).. “pulang? Baru sebentar kamu disini, masa mau pulang”…
Sambil “grasak – gresek suara keresek” Bani menjawab..
Bani             : “hmm ya mau gimana lagi, tiketnya udah dibeli hihi,,,” .. nih buah buat kamu, orang sakit mesti makan buah – buahan,,, katanya sih itu juga” (sambil menaruh keresek buah di samping badan Karin) ..
Karin            : “yaahh,, sebentar amat sih kamu, batalin aja tiketnya. Besok baru pulang, nginep disini”
Bani             : “waduhhh wkwkwk” (tertawa lepas 2 detik)… “gak bisa lah sayang udah dibayar, lagian lusa harus bimbingan persiapan sidang 5 hari lagi”..
Karin            : “yaahhh”.. (wajah cerianya mulai hilang kembali)
Bani             : “ hehe,, tunggu yah mau pamitan dulu” … (berdiri dari kursi menuju ruang tamu untuk pamitan ke keluarga Karin )

Sama seperti Karin, Bani pun sebenarnya tidak ingin segera pulang terlebih jarak Bandung Cirebon cukup memakan waktu dan tentunya stamina. Orang tua Karin dan Kakaknya pun menahan Bani agar tidak cepat pulang lagi karena khawatir kondisi Karin kembali murung dan gelisah, akan tetapi sama seperti yang dikatakan kepada Karin, Bani juga mengatakannya ke keluarga Karin alasan ia harus segara pulang dan ia menyampaikan kalau permintaan maaf ke semuanya serta ke Febri (tunangannya Karin) karena ia merasa bersalah, bagaimana pun juga Bani pernah menjadi pacarnya Karin. Sehingga ia takut kalau Febri merasa tersinggung dengan kedatangannya. Namun sangat diluar dugaan, Febri merasa tenang dan lega setelah kedatangan Bani, dan Febri mulai menerima kalau ternyata Karin masih mempunyai harapan besar kepada Bani. Setelah itu semuanya kembali lagi ke ruangan Karin kecuali Febri, karena ia pamit pulang untuk bekerja.

Karin            : “Ban,,, kalau lagi ada waktu luang, jangan lupa main ke rumah yah” (ucap Karin dengan posisi berbaring, nada bicara pelan dan penuh harap, tidak terlihat lagi wajah seri dan penuh canda)
Bani             : “hahaha,, siapp, jangan lemas gitu dong… harus semangat”

Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Karin, sangat menyentuh hati keluarga terutama papanya, karena dulu sengaja memisahkan dan meminta hubungan Karin dengan Bani putus. Sekarang papa Karin sadar kalau anaknya itu sangat membutuhkan keberadaan Bani, dan beruntungnya Febri termasuk orang yang mudah menerima keadaan dan penyabar meskipun ia sorang prajurit dengan tampang tidak jauh sangar dari papanya Karin. 

Bani pamit dan mengucapkan salam………

Saat itu posisi Karin yang sedang berbaring tiba – tiba bangun (ke posisi duduk / bangun setengah badan) sambil melambaikan tangan kananya ke Bani ….

Karin            : “Ban……..    awwww“

Ketika mengangkat tangan, Karin tidak sadar kalau jarun infusan menancap di lengan kanan. Akhirnya selang infusan terlepas, sementara jarum masih menancap di lengan.
Darah pun keluar dari ujung jarum, membuat semua panik, termasuk Bani yang menahan langkah kakinya untuk keluar ruangan. 

Mama Karin : “haduuhh karinn…. Bang….abang, cepetan telpon suster” (meyuruh kakak Karin dengan keadaan panik)
Karin            : “duuh perih…” (ekspresi muka merasakan rasa perih)

Salah satu kakak ipar Karin seorang perawat dengan sigap menarik lagi selang infusan dan menyambungkannya ke jarum yang menancap di lengan Karin..

Bani             : “waduuuh, ada apa rin, ?” (sedikit panik)..
Karin            : “aku mau ngasih buku” (sambil menahan perih)… kak tolong ambilin buku itu, (sambil menunjuk kearah buku, meminta kakaknya mengambil)

2 minggu kemudian setelah Karin sudah di ijinkan untuk pulang, Febri dan orang tuanya berkunjung ke rumah Karin untuk membicarakan apa yang telah terjadi. Semua keputusan ada ditangan Febri, Karin hanya bisa menuruti apa yang dikatakan papanya. Febri sangat tidak berharap jalan hidupnya seperti ini, namun air cucian beras tidak dapat bening kembali, semua sudah terjadi dan Febri harus segera memutuskan. Dengan berat hati Febri membatalkan rencanannya untuk menikahi Karin dan mengakhiri hubungannya, meskipun begitu Febri merasa lega dan semua sudah jelas. 

Di sisi lain Karin merasa bersalah bercampur lega, sebab ia tidak bisa melanjutkan niat baik Febri untuk meminangnya. Sementara orang tua Karin dan Febri tidak memberikan keputusan yang mengekang antara keduanya, mereka hanya memberikan semangat dan dukungan positif bagi anak – anaknya. 

Lembaran cerita baru mulai menghiasi kehidupan Karin, ia sudah diperbolehkan untuk memegang Hp dan bebas berlalu lalang keluar rumah meskipun masih berada di kursi roda. Hari harinya selalu ceria dan dipenuhi rasa optimisme. Karin memang orang yang riang dan mudah membuat suasana ceria, sama seperti Bani yang mudah beradaptasi dengan siapapun.






Terimakasih



Komentar